Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Tradisi Bantai Adat Saat Lebaran, Silaturahim Anak Rantau Dengan Kampung Halaman terjalin

Kamis, 05 Mei 2022 | 17:28 WIB Last Updated 2022-05-05T10:59:43Z

Saat Bantai Adat Akan Dibagikan

PADANGPARIAMAN - Masyarakat Kabupaten Padangpariaman, dalam merayakan lebaran melaksanakan tradisi sembelih kerbau untuk dijual kepada masyarakat dengan baonggok.


Pada suasana  hari raya lebaran Idul Fitri 1443 Hitjriah kemarin masyarakat menggelar membantai kerbau dengan namanya bantai adat. 


Saat itulah terjalin komunasi dua arah, sehingga ada orang rantau pulang kampung dapat bertemu dalam lokasi pembatai kerbau.


"Kemudian daging kerbau tersebut kita jual secara baonggok ( dimasukan satu kantong plastik asoy ) kepada masyarakat, sebelumnya kita data dulu nama - nama orang yang akan membeli," kata Zulzaldi Labai Mangkuto, kemarin.  


Zulzaldi salah seorang alim ulama Nagari Paritmalintang, Kecamatan Enam Lingkung, Padangpariaman menyatakan, tradisi ini telah turun temurun sejak dahulunya.


Makanya, dalam kaumnya di lebaran kali ini menyembelih satu ekor kerbau, namun sebelumnya semua pembayaran lunas dengan melakukan pendatan siapa saja yang akan membelinya.


"Kita melakukan hal itu untuk memastikan berapa uang awal terkumpul untuk membeli ternak kerbau. Pengurus sebelumnya sudah meninjau ternak yang akan dibeli di pasar ternak," ujarnya. 


Katanya, bantai adat ini dilaksanakan di setiap korong atau surau dalam Nagari paritmalintang. Ada korong yang hanya melakukan bantai adat di masjid (maksudnya pengurus masjid), ada pula di satu korong terdapat beberapa surau yang juga melakukan bantai adat. 


"Tapi kita di Nagari Paritmalintang, di tempatkan satu tempat dengan kesepakatan nagari,  sehingga satu korong ada yang melakukan bantai adat satu ekor sampai tiga ekor," ujarnya. 


Dikatakan, usai shalat Idul Fitri, ternak yang sudah dibeli kaum atau korong dibantai di satu lokasi. Lokasi pembantaian yang telah disediakan sebelumnya, sengaja digabungkan korong - korong se Nagari Paritmalintang agar lebih memudahkan penyelenggaraannya. 


Setelah dibantai, daging tersebut dionggok (dionggokan) sesuai dengan jumlah yang sudah disepakati sebelumnya. Pembagian daging tersebut bukan dengan sistem berat per kilogram, melainkan onggok (onggokan). 


"Satu orang minimal memesan 1 onggok. Ada pula yang memesan lebih dari satu onggok, misalnya sampai 10 onggok," ujarnya. 


Akan tetapi katanya, seseorang yang memesan daging baonggok (beronggokan) lebih dari satu, berarti selain untuk kebutuhan dirinya sendiri, juga diberikan kepada orang lain.


Lebih jauh disampaikan walinagari Paritmalintang Sudirman,  seorang mamak memberikan satu onggok untuk kemenakan, atau sebaliknya seorang kemenakan kepada mamaknya, seorang kakak memberikan kepada adik atau sebaliknya, adik memberikan kepada kakaknya. Ada juga diberikan kepada karyawan tertentu bagi seseorang yang memperkerjakan  orang lain dalam usahanya. 


"Dengan pemberian daging tersebut, seseorang yang ikut bantai adat semakin meningkatkan silaturrahmi dan tali persaudaraan. Baik antara orang yang memberi dengan yang menerima, maupun peserta bantai adat baonggok sesamanya. Seseorang yang turut  bantai adat ini juga sebagai tanda bersedia hidup bakorong bakampung (bermasyarakat)," ujar Walinagari Paritmalintang Sudirman.


Sudirman katanya, sekalipun sudah membeli daging baonggok, toh seseorang juga membeli daging di pasar bebas untuk keperluan menjelang lebaran.  


"Sekarang rata-rata per onggok daging tahun ini dikenai sebesar Rp 140.000 sampai Rp 150 ribu. Semua jenis tubuh kerbau tersebut, diberi rata masing-masing onggok. Seperti daging, hati, kulit, usus, tulang dan sebagainya yang bisa dimasak dan dimakan," tandasnya mengakhiri.(ns)

×
Berita Terbaru Update