![]() |
| Warung Nasi Gorengnya |
Oleh: Majid Abdillah
Mahasiswa Manajemen, Falkultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Andalas
Nasi Goreng Aldo, usaha kuliner milik keluarga Pak Alberto dan Buk Dona di Kp. Tarandam 40, Jl. Raya Cupak Tangah No. 40a, Kecamatan Pauh, Kota Padang, mampu meraup penghasilan sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta setiap hari, menurut keterangan pemiliknya saat ditemui pada Jumat (28/September/2026). Agar uang itu tidak habis tanpa arah, keluarga ini membaginya dengan persentase tetap: separuh untuk modal usaha, sisanya untuk belanja rumah tangga, tabungan, dan dana tak terduga. Cara sederhana tersebut menjaga kedai tetap stabil, baik saat ramai maupun sepi pembeli.
Pak Alberto, pemilik Nasi Goreng Aldo, mengatakan keuangan kedainya diatur setiap hari dengan menyesuaikan kebutuhan usaha dan rumah tangga. Dalam sehari, penghasilan yang diperolehnya berkisar Rp2 juta hingga Rp3 juta. Pengaturan yang teratur inilah yang membuat kedai dapat terus berjalan dari hari ke hari, tanpa bergantung pada ramai atau sepinya pembeli pada satu waktu tertentu.
Uang usaha dan uang rumah tangga di kedai ini memang tidak dipisahkan. Namun, Pak Alberto punya cara agar keduanya tetap seimbang, yakni membagi penghasilan ke dalam empat pos. Sebesar 50 persen digunakan untuk modal usaha, 30 persen untuk belanja rumah tangga, 10 persen untuk menabung, dan 10 persen untuk uang tak terduga.
“Penghasilan usaha digabung antara kedai dengan rumah tangga caranya dengan menyisihkan uang 50 persen digunakan untuk modal usaha, 30 persen untuk belanja rumah tangga, 10 persen untuk menabung, dan 10 persen untuk uang tak terduga.” ujarnya saat ditemui, Jumat kemarin.
Pembagian ini memberi kepastian bagi keluarga. Setiap hari sudah jelas berapa yang harus kembali ke kedai sebagai modal, berapa yang dipakai untuk kebutuhan rumah, dan berapa yang aman disimpan, sehingga uang usaha tidak terpakai untuk hal di luar rencana.
Untuk kebutuhan bahan baku, kedai berbelanja ulang setiap hari. Beras, minyak goreng, telur dan bumbu-bumbu menjadi barang yang paling rutin dibeli. Sistem ini membuat kedai tidak perlu menimbun stok dalam jumlah besar, sehingga modal tidak tertahan di gudang dan bahan yang dipakai selalu dalam kondisi baru.
“Untuk restock, itu dilakukan setiap hari, biasanya bahan yang di restock yaitu beras, minyak, telur dan bumbu bumbu.” katanya.
Tantangan muncul ketika pelanggan sepi. Menurut Pak Alberto, pada hari seperti itu ia menutup kekurangan dengan memakai keuntungan dari pendapatan hari sebelumnya. Dengan begitu, hari yang ramai menjadi bantalan bagi hari yang lesu, dan kegiatan memasak tetap berjalan tanpa terputus.
“Cara mengatasinya palingan mengambil keuntung dari hasil pendapatan kemarin untuk menutupi kerugian hari ini.” tuturnya.
Strategi ini sederhana, tetapi menuntut kebiasaan disiplin, sebab keuntungan pada hari ramai tidak boleh dihabiskan sekaligus. Soal masa depan, keluarga ini memilih jalur aman. Alberto mengaku belum berinvestasi dan hanya menabung sebagian hasil usaha di bank.
Sementara itu, Buk Dona, istri Pak Alberto, menyampaikan bahwa pengelolaan keuangan usaha tidak bertumpu pada satu orang. Seluruh anggota keluarga terlibat dalam mengatur uang kedai, sehingga arus pemasukan dan pengeluaran menjadi lebih terbuka dan mudah diawasi bersama.
“Sistem pengelola keuangan dilakukan dengan keluarga dan dilakukan bersama sama” kata Buk Dona.
Menurut Buk Dona, keputusan besar terkait uang, seperti membuka cabang baru atau membeli peralatan mahal, jarang terjadi. Bila muncul, keputusan itu tidak diambil sepihak, melainkan dibicarakan dulu dengan keluarga.
“Sebenarnya keputusan besar seperti membuka cabang baru atau membeli peralatan mahal itu jarang, walaupun ada keputusan itu didiskusikan dengan keluarga.” Katanya. Serta ia juga menyebutkan bahwa tidak pernah terjadi bentrokan dalam keluarga pada soal cara mengatur keuangan usaha. “Selama ini mengatur keuangan sejalan dan tidak ada bentrokan dalam mengatur keuangan ini.” tambahnya.
Dari sisi pelanggan, Fauzi mengaku sudah lama menikmati hidangan di kedai ini. Ia mulai berlangganan sejak awal masa kuliahnya di kawasan Pauh. Untuk pembayaran, ia bisa memakai uang tunai ataupun QRIS, dua pilihan yang membuat transaksi terasa mudah.
“Saya menjadi pelanggan ketika baru berkuliah di wilayah ini, untuk pembayaran saya melakukan pembayaran secara tunai ataupun menggunakan QRIS.” ujar Fauzi.
Dalam hal ini, kemudahan membayar lewat QRIS sngat membantu pelanggan yang tidak membawa uang tunai, sehingga penjualan tidak hilang hanya karena persoalan alat bayar.
Jadi, praktik Nasi Goreng Aldo sejalan dengan kebiasaan banyak usaha mikro, yakni menggabungkan uang usaha dan pribadi. Kebiasaan ini berisiko karena pemilik sulit mengetahui apakah usahanya benar-benar untung. Meski demikian, pembagian persentase yang tegas membantu keluarga menjaga keseimbangan pengeluaran dan memastikan ada dana untuk tabungan serta keadaan darurat.
Belanja bahan baku setiap hari dan pemakaian pendapatan kemarin untuk menutup kekurangan hari ini menunjukkan toko ini sangat bergantung pada perputaran uang cepat. Selama pendapatan stabil, sistem berfungsi baik. Namun, jika pendapatan terhenti beberapa hari berturut-turut, itu bisa menjadi masalah.
Keluarga yang bersatu menjadi modal non-ekonomi yang tak kalah penting. Risiko salah paham dapat ditekan ketika masalah keuangan dan keputusan penting dibahas bersama. Pengalaman Nasi Goreng Aldo menunjukkan bahwa manajemen keuangan yang baik tidak selalu membutuhkan aplikasi atau pembukuan rumit, melainkan konsistensi menggunakan dan membagi uang sesuai peruntukannya.
Pemisahan rekening usaha dan pribadi serta pencatatan keuangan tertulis dapat menjadi langkah lanjutan jika keluarga ingin memperluas usaha, misalnya membuka cabang atau mengajukan modal tambahan. Untuk saat ini, dapur Nasi Goreng Aldo terus mengepul, ditopang kekompakan keluarga dan kesetiaan para pelanggannya.

