Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Asal Usul Rendang, Kontroversi antara Malaysia dan Indonesia

Rabu, 29 Mei 2024 | 22:23 WIB Last Updated 2024-05-29T15:23:17Z

 

Penulis Rahmat Fadlan Revano, Mahasiswa Universitas Andalas Jurusan Sastra Minangkabau


RENDANG adalah salah satu masakan tradisional yang paling terkenal dari Asia Tenggara, terutama di Indonesia dan Malaysia. 


Hidangan daging yang dimasak dengan rempah-rempah kaya ini telah lama menjadi kebanggaan masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat, Indonesia. 


Namun, klaim tentang asal usul rendang seringkali menimbulkan perdebatan sengit antara Indonesia dan Malaysia. Kedua negara ini memiliki sejarah budaya dan kuliner yang saling terkait, sehingga tidak mengherankan jika ada beberapa tumpang tindih dalam warisan kuliner mereka. 


Meski demikian, klaim Malaysia yang menyatakan rendang berasal dari negara mereka seringkali memicu reaksi keras dari masyarakat Indonesia, khususnya dari Sumatera Barat, yang merasa bahwa rendang adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya mereka.


Rendang adalah masakan tradisional Minangkabau yang telah ada selama berabad-abad. Asal mula rendang dapat ditelusuri kembali ke masa migrasi besar-besaran masyarakat Minangkabau dari Sumatera Barat ke berbagai wilayah di Indonesia dan bahkan ke Malaysia. 


Pada masa lalu, rendang dibuat sebagai hidangan yang dapat bertahan lama tanpa pendingin, karena proses memasaknya yang panjang membuat daging dan bumbu menjadi kering dan awet. 


Ini sangat penting bagi masyarakat Minangkabau yang sering melakukan perjalanan jauh untuk berdagang atau merantau. Proses pembuatan rendang yang melibatkan memasak daging dengan santan dan campuran rempah-rempah hingga kuahnya menyusut dan kering, menciptakan rasa yang kaya dan kompleks. 


Rempah-rempah seperti serai, lengkuas, bawang merah, bawang putih, cabai, dan berbagai bumbu lainnya memberikan cita rasa khas yang sulit ditemukan dalam masakan lain. 


Proses memasak yang memakan waktu berjam-jam ini juga dianggap sebagai bentuk seni dalam budaya Minangkabau, di mana kesabaran dan ketelitian sangat dihargai.


Klaim Malaysia terhadap rendang sebagai bagian dari warisan kuliner mereka bukanlah tanpa alasan. 


Seperti disebutkan sebelumnya, migrasi masyarakat Minangkabau ke Malaysia telah membawa banyak elemen budaya, termasuk masakan. 


Di Malaysia, rendang juga menjadi hidangan populer yang sering disajikan dalam berbagai acara penting seperti pernikahan, perayaan hari raya, dan acara keluarga lainnya. 


Masyarakat Malaysia juga memiliki variasi rendang mereka sendiri yang disesuaikan dengan selera lokal. Namun, klaim bahwa rendang berasal dari Malaysia sering kali dipandang sebagai upaya untuk mengklaim hak atas sesuatu yang secara historis dan budaya berasal dari Sumatera Barat, Indonesia. 


Hal ini menjadi lebih rumit karena kedua negara berbagi banyak kesamaan dalam budaya dan bahasa, sehingga batas-batas antara warisan budaya seringkali menjadi kabur. 


Misalnya, masyarakat Minangkabau di Malaysia juga sering merayakan tradisi kuliner yang sama dengan saudara mereka di Sumatera Barat.


Di Indonesia, khususnya di Sumatera Barat, rendang bukan hanya sekadar makanan; ia adalah simbol identitas budaya dan kebanggaan daerah. 


Ketika Malaysia mengklaim rendang sebagai milik mereka, hal ini seringkali dianggap sebagai pencurian budaya. 


Reaksi keras dari masyarakat dan pemerintah Indonesia menunjukkan betapa pentingnya rendang dalam identitas nasional dan regional. Pada tahun 2011, rendang Minangkabau dinobatkan sebagai makanan terenak di dunia oleh CNN Travel. 


Pengakuan ini semakin memperkuat klaim Indonesia atas rendang dan menegaskan bahwa hidangan ini memiliki nilai yang tinggi di kancah kuliner internasional. 


Penghargaan ini juga mendorong upaya pelestarian rendang sebagai warisan budaya tak benda yang harus dilestarikan dan dilindungi.


Kontroversi rendang ini juga menunjukkan bagaimana makanan dapat menjadi alat diplomasi budaya. Di era globalisasi, makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga identitas dan kebanggaan nasional. 


Rendang telah menjadi contoh bagaimana warisan kuliner dapat menjadi titik perselisihan antara negara, tetapi juga peluang untuk dialog dan saling pengertian. 


Beberapa upaya telah dilakukan untuk mengatasi perselisihan ini melalui diplomasi kuliner. Misalnya, ada program pertukaran budaya dan kuliner yang memungkinkan koki dari Indonesia dan Malaysia untuk saling berbagi pengetahuan dan teknik memasak. 


Ini tidak hanya membantu mengurangi ketegangan, tetapi juga memperkaya pemahaman dan apresiasi terhadap warisan kuliner masing-masing.


Dalam konteks perlindungan warisan budaya, Indonesia telah berusaha untuk mendapatkan pengakuan internasional untuk rendang sebagai warisan budaya tak benda. 


Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) memiliki program yang bertujuan melindungi warisan budaya tak benda, dan pengakuan ini dapat memberikan perlindungan terhadap klaim dari negara lain. 


Indonesia juga telah mendaftarkan beberapa elemen budaya lainnya sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO, seperti batik dan wayang kulit. 


Dengan mendapatkan pengakuan internasional untuk rendang, Indonesia berharap dapat melindungi hak budaya mereka dan mencegah klaim yang tidak sah dari negara lain. Selain aspek budaya, rendang juga memiliki dampak sosial dan ekonomi yang signifikan. 


Di Sumatera Barat, rendang bukan hanya simbol identitas budaya, tetapi juga sumber mata pencaharian bagi banyak orang. Industri rendang rumahan dan restoran yang menyajikan rendang menjadi pilar penting dalam perekonomian lokal.


Peningkatan popularitas rendang di kancah internasional juga membuka peluang ekspor bagi produk rendang siap saji. Banyak produsen rendang di Indonesia yang kini mampu menembus pasar global, membawa cita rasa rendang ke berbagai belahan dunia. 


Hal ini tidak hanya meningkatkan pendapatan ekonomi lokal, tetapi juga memperkenalkan kekayaan kuliner Indonesia kepada dunia.


Rendang Minangkabau terkenal dengan teknik memasak yang memakan waktu lama dan bahan-bahan yang khas. 


Setiap keluarga di Minangkabau mungkin memiliki resep rendang mereka sendiri, namun ada beberapa elemen dasar yang tidak berubah.


Santan kelapa yang dimasak perlahan bersama dengan daging sapi dan berbagai bumbu dan rempah-rempah menciptakan lapisan rasa yang kompleks dan kaya. 


Proses memasak rendang melibatkan tiga tahap utama: gulai, kalio, dan akhirnya rendang. Pada tahap gulai, daging dimasak dalam santan dan rempah-rempah hingga kuahnya masih cair. Tahap kalio adalah saat kuah mulai menyusut dan mengental. 


Akhirnya, pada tahap rendang, santan dan bumbu telah benar-benar menyusut, meninggalkan daging yang kaya akan bumbu dan warna cokelat tua.


Di Malaysia, rendang juga sangat populer dan telah diadaptasi ke dalam berbagai bentuk. Rendang Malaysia mungkin tidak dimasak selama versi Minangkabau dan memiliki kuah yang lebih banyak. 


Beberapa variasi rendang di Malaysia juga menggunakan bahan-bahan yang sedikit berbeda, seperti tambahan gula melaka (gula kelapa) untuk rasa yang lebih manis.


Rendang ayam dan rendang itik adalah beberapa variasi yang populer di Malaysia, sementara di Indonesia, rendang sapi adalah yang paling umum. Perbedaan ini menunjukkan adaptasi lokal yang terjadi ketika suatu masakan melintasi batas geografis.


Kesimpulan dari artikel ini yaitu rendang adalah simbol kebanggaan budaya bagi masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat dan masyarakat Melayu di Malaysia.


Meski klaim asal usulnya sering kali menjadi sumber perselisihan, penting untuk diingat bahwa makanan adalah bagian dari warisan budaya yang dinamis dan sering kali melintasi batas-batas geografis dan politik. 


Alih-alih memicu konflik, rendang dapat menjadi jembatan yang menghubungkan dua bangsa yang memiliki banyak kesamaan. Dengan memahami dan menghargai sejarah dan konteks di balik rendang, kita dapat menghargai keunikan dan kekayaan budaya yang dimiliki oleh Indonesia dan Malaysia. 


Rendang bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga cerminan dari sejarah, budaya, dan identitas yang kompleks. Mari kita nikmati rendang sebagai warisan bersama yang memperkaya kehidupan kita dan mengingatkan kita akan pentingnya saling menghormati dan menghargai warisan budaya masing-masing.


Selain itu, dengan adanya pengakuan internasional dan perlindungan hukum, diharapkan warisan kuliner seperti rendang dapat terus dilestarikan dan dijaga dari klaim yang tidak sah. 


Diplomasi kuliner dan program pertukaran budaya dapat menjadi alat yang efektif untuk mengurangi ketegangan dan memperkuat hubungan antarbangsa. 


Dengan demikian, rendang dapat terus menjadi kebanggaan dan identitas bersama yang menghubungkan Indonesia dan Malaysia dalam harmoni budaya. (**/)


 


×
Berita Terbaru Update