Ticker

6/recent/ticker-posts

Pengalaman Berharga seorang Dokter


Oleh :  Helfizon Assyafei 

Terlalu banyak info soal covid.  Kadang tidak efektif. Kadang membuat kita jadi takut, panik, cemas. Yang kita perlukan adalah informasi yang benar dan solusi biar kita lebih tenang.

Seorang dokter bedah di RS rujukan covid berbagi cerita di twitter. Menurut saya simpel dan bermanfaat sekali.

Awal merebaknya covid, ia yang berada di posisi second line justru berpotensi terinfeksi lebih besar karena awalnya mereka cuma punya APD masker bedah biasa.

Meski ada imbauan dilarang operasi karena risiko terpapar, ia tetap operasi pasien karena ia kasihan bila pasien itu harus menunggu. Ia kerja, operasi terus, lari pagi (olahraga) terus.

Ketika akhirnya ia terserang pilek dan badan kurang fit tanggal 9  April minta diperiksa swab. 23 April keluar hasilnya: POSITIF.

Ia malah tertawa. Begini penuturannya; saya ini orang tanpa gejala (OTG). Sangat fit dan gak perlu obat. Padahal saya berpotensi sangat besar menulari orang lain.

Untungnya saya tertib berAPD, jaga jarak, hindari kerumunan dan selalu cuci tangan. Termasuk di rumah.

Perawat-perawat dan pasien-pasien yang selama 2 minggu yang bersama saya itu syukurlah tidak ada yang terjangkit.

Besoknya saya diminta swab lagi (protokolnya 2 minggu dari swab positif dilakukan swab ulang dan 3 hari kemudian swab lagi).

Selama itu saya off (tidak bertugas). Semua hasil swab ulang: negatif. SEMBUH. Langsung kerja poli lagi, operasi lagi.

Jadi kalau ditanya gimana rasanya kena Covid-19 ya kaya pilek biasa. Memakai masker dengan benar itu mencegah kita dari tertular dan menulari. 

Makanya walaupn 2 minggu dalam kondisi OTG tidak ada yang tertulari baik rekan kerja maupun keluarga. Saya bisa santuy karena menguasai kaidah-kaidah new normal dan tertib melakukannya.

Cuma tolong dimengerti saya bisa ‘gitu aja’ ngadapin covid karena ada pra kondisinya; sejak sebelum era covid saya rutin olahraga. Tidak ada penyakit bawaan.

Tertib pakai APD, jaga jarak, masker, cuci tangan dan saya tahu batas kekuatan (stamina) saya dan tidak pernah memaksanya melewati itu.

Selain itu makan yang benar, minum vitamin, istirahat yang cukup. Saat hidung mampet hirup uap panas supaya ingus mudah dikeluarkan.

Tidak batuk dan buang ingus sembarangan. Rutin olahraga dan banyak minum air putih.

Jadi tidak perlu paranoid (takut berlebihan). Kerjakan aktivitas kita, jalani hidup biasa saja, banyak berdoa.

Berdoa itu penting untuk mengurangi stres dan berserah diri pada perlindungan Nya. Pengalaman ini berharga: kerja di pusat wabah, terinfeksi covid-19 tetapi semua baik-baik saja.

Terimakasih Tuhan..

Pekanbaru, 27 Mei 2020

Posting Komentar

0 Komentar