Mobiller di SMPN I Patamuan Banyak yang "Lanjut Usia"

Alizar : Kita Berharap Adanya Bantuan Pihak Pemerintah

Gambar Ilustrasi Mobiler Sekolah Rusak ( Fhoto Via Internet )

Patamuan (Reportase Sumbar)---SMPN I Patamuan, Padangpariaman dewasa ini sangat membutuhkan tambahan mobiller. Terutama berupa meja dan kursi belajar. Pasalnya,  sejauh ini, sebagian besar mobiller yang ada di sekolah tersebut telah berusia lanjut, atau telah dimakan usia (lansia). Karena rata-rata mobiller  di sekolah itu telah berumur lebih dari tiga puluh tahunan.

Seperti diakui Kepala SMPN I Patamuan, Alizar, saat dihubungi di ruang kerjanya kemarin, khusus untuk labor IPA, yang ada di sekolah tersebut, sampai sama sekali belum memiliki mobiller sebagaimana harusnya.

"Makanya sementara ini kita hanya memakai mobiller usang yang kondisinya sudah bayak yang reot, dimana sebagian besar kondisinya sangat memprihatinkan, padahal kita menyadari bahwa labor ini sangat dibutuhkan untuk menunjang kegiatan praktik bagi siswa," terang Alizar.

Selain belum dilengkapi mobiller, labor IPA yang ada di sekolah itu juga belum dilengkapi sarana pendukung yang memadai, termasuk belum adanya lemari besi untuk menyimpan alat-alat labor, khususnya untuk menyimpan bahan-bahan kimia untuk keperluan penelitian.

Dengan alasan itulah Alizar berharap kiranya sarana dan fasilitas pendukung labor yang ada di sekolah yang dipimpinnya itu ke depanya bisa segera dilengkapi, sehingga anak-anak bisa mengikuti kegiatan praktik dengan nyaman dan aman.

"Karena dengan kondisi seperti sekarang, kondisinya kan jelas sagat tidak aman bagi keselamatan anak-anak. Karena di labor itu juga disimpan sejumlah zat kimia. Sementara lemari untuk penyimpanannya saja belum ada," imbuhnya.

Labor IPA yang di sekolah itu yang dibangun pada tahun 2012 lalu, sebelumnya sempat terbengkalai disebabkan terbatasnya anggaran yang tersedia waktu itu. Makanya, pada tahun ini pihaknya sebagai kepala sekolah langsung berinisiatif melanjutkan pembangunannya,  yaitu menggunakan dana bantuan pusat atau DAK. Hal itu lajutnya juga sejalan dengan sejumlah pembenahan lainnya yang dilakukan pihaknya di sekolah tersebut. Seperti merehab ruangan kantor kepala sekolah dan ruangan guru.

"Jadi khusus untuk kelanjutan pembangunan labor IPA sendiri, dananya juga sangat terbatas sehigga tidak memadai untuk membeli peralatan pedukung seperti mobiller, maka itulah sebagai solusinya kita terpaksa menggunakan mobiller lama yang telah usang," terangnya.

Di sisi lain, di tengah berbagai keterbatasan yang dihadapi SMPN I Patamuan yang dipimpinnya saat ini, pihaknya dari jajaran kepala sekolah dan majelis guru dan  terus berupaya memperkuat pembinaan karakter bagi siswa yang menimba pengetahuan di sekolah tersebut.

Dimana pembinaan karakter nilai karakter tersebut lanjut Alizar antara lain diarahkan pada penanaman nilai moral dan keagamaan.

"Salah satunya yaitu melalui program hafiz quran. Target kita setamat dari SMP ini mereka nantinya bisa melanjutkan pendidikannya ke sejumlah sekolah pavorit, termasuk diantaranya MAN Insan Cendikia yang ada di Sintuak Padangpariaman," bebernya.

Penanaman nilai karakter lainnya yaitu melalui penanaman sikap disiplin dalam menjalankan ibadah, seperti mengikuti shalat zuhur berjamaah. Di samping kegiatan pembinaan keagamaan lainnya, seperti muhadarah, latihan pidato atau kultum dan lain sebagainya.

Selain itu, khusus untuk program hafiz sendiri, setiap hari anak-anak juga diwajibkan untuk menyetor ayat kepada guru pembimbing mereka masing-masing.

Hanya saja lanjutnya, khusus untuk pelaksanaan shalat zuhur berjamaah sendiri, berhubung masih terbatasnya ruangan mushalla yang tersedia di sekolah tersebut, maka kegiatan shalat berjamaah juga terpaksa harus dilakukan secara bergantian, yaitu tiga shift. "Ya mau bagaimana lagi, jumlah siswa kita lebih dari 300 orang, sementara daya tampung mushalla yang ada hanya berkisar sepetiganya. Makanya ke depan kita berharap hendaknya ada solusi terbaik, sehingga kita di sekolah ini nantinya bisa membangun mushalla yang lebih memadai," imbuhnya.

Alizar menyebutkan, salah satu opsi  yang mungkin dilakukan untuk membangun mushalla yang refresentatif adalah dengan jalan menghimpun dana dari komite. Namun persoalannya, sekolah sendiri sejauh ini tidak lagi dibenarkan memungut dana apapun dari orang tua murid. Karena itulah pihaknya berharap kiranya ke depan ada soslusi terbaik untuk itu, termasuk kemungkinan dibolehkannya pihak sekolah untuk menghimpun dana infaq atau partisipasi lainnya dari pihak komite atau wali murid. "Karena kalaupun misalnya hal itu mungkin bisa dilakukan dengan cara mencari donatur, namun itu tentunya tidaklah semudah yang dibayangkan," tutupnya.  (RS/001)

Posting Komentar

0 Komentar