Selasa, 10 Oktober 2017

Kota Pariaman Siap Jadi Penyangga Utama Poros Maritim Nasional

Kawasan Maritim Pariaman ( Fhoto : Internet)
Pariaman (Reportase Sumbar)---Komitmen Pemko Pariaman untuk mengembangkan potensi maritim atau potensi bahari yang ada di Kota Pariaman agaknya tidak hanya diwujudkan melalui sejumlah program nyata di lapangan, namun lebih dari itu juga lahir dari adanya keberpihakan anggaran yang jelas untuk itu. Baik itu melalui dana APBD, Provinsi, Dana Alokasi Khusus (DAK) yang dikucurkan Pemerintah Pusat. Pun demikian halnya realisasi dari anggaran Dana Dekosentrasi dan lain sebagainya.

Seperti diakui Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Pariaman, Dasril, saat dihubungi di ruang kerjanya kemarin. Dimana jajaran Pemko Pariaman sebutnya, memang sangat komit untuk mengembangkan potensi kelautan yang ada di Kota Pariaman. Hal itu antara lain terlihat dari dicadangkannya potensi laut yang ada di sekitar Kota Pariaman sebagai kawasan Konservasi Laut Daerah. "Hal itu tidak hanya berlangsung saat ini saja, namun telah berlangsung sejak lama, tepatnya sejak tahun 2008 yang lalu," terang Dasril.

Secara umum program kelautan dan perikanan di Kota Pariaman, sepenuhnya diarahkan untuk mengembangkan berbagai potensi sumber daya yang ada di sekitar perairan laut Pariaman. Demikian pula upaya perlindungan terhadap biota laut dan sumber daya hayati yang ada di dalamnya, seperti halnya terumbu karang, potensi perikanan hingga program pelestarian penyu, yang diwujudkan dalam bentuk program konservasi penyu di Desa Apar, Kecamatan Pariaman utara.

Konkritnya, sesuai aturan yang ada, program pemberdayaan sumber daya kelautan dan perikanan yang ada di Kota Pariaman secara khusus juga diarahkan untuk melindungi kawasan potensi perairan laut termasuk beragam kekayaan sumber daya hayati yang ada di dalamnya.

"Sebagai contoh, kawasan penangkapan ikan atau kawasan terumbu karang misalnya, itu terus dirawat dan dipelihara dengan baik, termasuk dilindungi agar terhindar dari kerusakan yang disebabkan oleh perilaku manusia, seperti praktik penangkapan yang tidak ramah lingkungan," terangnya.

Selain itu, upaya pelestarian potensi kelautan yang ada di Kota Pariaman juga diwujudkan dalam bentuk konsep zonasi pulau-pulau kecil yang ada di Kota Pariaman. "Sebagai contoh, pulau Kasiak misalnya, yang ditetapkan sebagai kawasan zona inti, di kawasan itu hanya boleh dimanfaatkan untuk keperluan tertentu saja. Seperti untuk keperluan penelitian, diving snouckling, dan aktivitas lain sebagainya. Karena itu pengawasan terhadap setiap aktivitas di kawasan itu dilakukan secara ketat. Sebagai zona inti, di kawasan itu juga tidak dibenarkan melakukan aktivitas lego jangkar di kawasan itu," tegasnya.

Pada tahun ini, memanfaatkan dana dekosentrasi dari pusat, Pemko Pariaman juga berencana bakal membangun dermaga di sekitar kawasan Pulau Tangah. Hal itu sekaligus juga semakin melengkapi kehadiran sejumlah dermaga yang pernah di bangun di Kota Pariaman.

Sementara itu, selain zona inti, juga ada zona pemanfaatan, termasuk diantaranya bisa dimanfaatkan untuk keperluan wisata, seperti halnya pulau Anso Duo. Demikian pula halnya pulau Ujuang dan Pulau Tangah. Selain itu, Pulau Ujuang dan Pulau Tangah misalnya juga ditetapkan pula sebagai zona perikanan berkelanjutan. Dimana di kawasan itu, para nelayan dibolehkan menangkap ikan, namun tentunya harus menggunakan alat tangkap yang sifatnya ramah lingkungan.

Jajaran Pemko Pariaman yang dipimpin duet Wali Kota Pariaman, H Mukhlis Rahman dan Wakil Walikota Pariaman, Genius Umar aghaknya menyadari betul, jika potensi bahari yang dimiliki Kota Pariaman saat ini tak ubahnya bak "harta karun" yang masih terpendam, yang mesti dipelihara dan dimanfaatkan secara optimal. Karena itulah keberadaannya perlu terus dirawat, dipelihara dan dilindungi dari berbagai kemungkinan kerusakan lingkungan.

"Oleh sebab itulah, meski Pulau Anso Duo misalnya telah ditetapkan sebagai kawasan pemanfaatan, namun tetap saja harus diawasi sedemikian rupa, sehingga kedatangan  pengunjung yang berwisata ke sana, tidak malah menimbulkan potensi kerusakan lingkungan," terang Dasril, yang didampingi Kabid Perikanan Budi Daya DKP Kota Pariaman, Feriyaldi dan Kabid Perikanan Tangkap DKP Kota Pariaman, Zainal.

Makanya, dengan alasan itu pula, kepada setiap pengunjung selalu diingatkan melalui berbagai himbauan atau pamflet yang dipasang secara khusus di kawasan pulau tersebut, agar mereka tetap bisa menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan yang ada di kawasan itu. "Makanya setiap pengunjung yang berwisata ke Pulau Anso Dua misalnya, semua dibekali dengan kantong plastik, sehingga nantinya mereka tidak membuang sampah sembarangan," terangnya.

Di pihak lain, untuk mendukung program pengembangan wisata, di sekitar Pulau Anso Duo juga telah dibangun sejumlah fasilitas, seperti fasilitas jalan setapak, dermaga pendaratan kapal wisata, atau gabuo, tempat peristirahatan pengunjung dan lain sebagainya.

Sementara itu, untuk pengawasannya, para petugas juga telah ditempatkan  di kawasan itu, untuk memantau setiap aktivitas pengunjung yang ada. Menariknya, semua itu bahkan telah dirumuskan dalam bentuk Standar Operasional atau SOP, sehingga masing-masing pihak bisa mengetahui apa yang harusnya menjadi tugas dan kewenangannya masing-masing."Untuk SOP nya, semua diserahkan kepada pihak Dinas Pariwisata, sebagai pihak pengelolanya," imbuh Dasril menjelaskan.

Tidak kalah pentingnya, kepedulian Pemko Pariaman dalam memelihara, menjaga serta mengoptimalkan berbagai potensi kelautan dan sumber daya hayati yang ada di kawasan perairan laut Kota Pariaman juga terlihat melalui program Konservasi Penyu. Dimana dari data yang dihimpun melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Pariaman, program konservasi penyu di Kota Pariaman telah menghasilkan lebih dari 72 ribuan bibit penyu, yang selanjutnya sebagian besarnya telah dilepas ke laut lepas.

Sebagaimana diketahui, perairan laut Kota Pariaman sendiri dikenal memiliki  tiga spesies penyu yang terbilang langka di dunia. Masing-masing, penyu Sisiak, penyu Lekang dan penyu Hijau.

"Intinya, selain dimaksudkan untuk melindungi potensi sumber daya kelautan, program konservasi penyu tersebut juga dimaksudkan sebagai daya tarik tersendiri, sehingga para pengunjung mau datang ke Kota Pariaman," terangnya.

Demikian pula program pemberdayaan ekonomi masyarakat nelayan yang biasa mencari nafkah menangkap ikan di perairan lautlepas, juga tidak luput dari perhatian Pemko Pariaman. Hal itu setidaknya terlihat dengan diprogramkannya program PEM dan PUM. Seperti diakui Dasril, program pemberdayaan masyarakat pesisir itu sendiri, bahkan telah berlangsung sejak tahun 2011 yang lalu.

Di pihak lain, seperti ditegaskan Kabid Perikanan Tangkap Dinas DKP Kota Pariaman, Zainal, bahwa pihaknya dari DKP memang sangat konsen dalam memelihara dan melindungi sumberdaya kelautan yang ada di Pariaman, termasuk di dalamnya terumbu karang yang ada di Kota Pariaman. Pasalnya, dari hasil penelitian yang ada, jika potensi sumber daya terumbu karang bisa diperlihara dengan baik, maka hasilnya bisa sangat luar biasa. Yaitu, hasilnya bisa  4 X lipat dari kondisi sebelumnya," terangnya.

Senada dengan itu diakui Kabid Perikanan Budi Daya DKP Kota Pariaman, Feriyaldi, bahwa program pemberdayaan potensi perairan laut dan perikanan di Kota Pariaman, termasuk program konservasi yang ada, secara umum dilakukan secara berkelanjutan dan bersifat saling terintegrasi antara satu dengan yang lainnya. Artinya, tidak hanya melibatkan pihak DKP saja, namun juga ikut melibatkan sejumlah stake holder dan sejumlah instansi dan pemangku kepentingan lainnya.

Agaknya dengan alasan itu pula, sangat beralasan kiranya, bila akhirnya program pemberdayaan potensi perairan laut dan perikanan, termasuk program konservasi yang dikembangkan Pemko Pariaman  dari tahun ke tahun, akhirnya mendapat apresiasi khusus dari pihak Kementrian kelautan dan Perikanan RI. Hal itu setidaknya terlihat dari kunjungan  Direktur Jenderal Konservasi dari Kementrian DKP RI, Andre Rosadi beberapa waktu lalu.

Tidak kalah membangggakan, Kepala Dinas DKP Kota Pariaman bahkan diundung secara khusus oleh pihak Kementrian Kelautan dan Perikanan sebagai keynote speaker pada tanggal 9-11 Mei 2017 yang lalu. Dan dengan berbagai pencapaian itu pula, Wali Kota Pariaman H Mukhlis Rahman juga sebagai salah satu nominasi penerima penghargaan  Satya Lencana Wirakarya. Selain itu, dengan berbagai pertimbangan itu pula, belakangan Kota Pariaman juga diusulkan sebagai kawasan Pariaman Sale, seperti halnya Bunaken Sale yang ada di Manado dan sejumlah sale daerah lainnya di Indonesia.

Tidak kalah pentingnya seperti diakui Kadis DKP Kota Pariaman, bahwa Kota Pariaman melalui berbagai program pemberdayaan sumber daya kelautan yang telah dilakukan jajaran Pemko Pariaman selama ini, tentunya tidak terlepas sebagai bagian penting dari kesiapan untuk menjadikan Pariaman sebagai penyangga utama Poros Maritim Nasional.

Tentunya dengan berbagai pencapaian yang diraih oleh Kota Pariaman dalam memberdayakan potensi kelautan di daerah ini, maka dengan beralihnya kewenangan pengelolaan kawasan pesisir ke pihak provinsi, maka kini harapan itu pun jelas tertumpang kepada para pemangku kebijakan di tingkat provinsi. Tentunya dengan harapan, semua program yang telah dilakukan selama ini, tetap bisa berlanjut dan makin berdaya guna pada masa-masa mendatang. Semoga.

YURISMAN MALALAK

SHARE THIS

Author:

Reportase Sumbar. Com adalah portal berita Sumatera Barat ditayangkan oleh PT.Berita Minang Berdasarkan Akta Notaris Jelisye Putri, SH Nomor 2 Tanggal 3 Agustus 2017

0 komentar: