| Penulis : Ivon Indra Ferdianto Mahasiswa Program Studi Magister Manajemen (S2) Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning (Unilak) |
Ivon Indra Ferdianto, sebagai Mahasiswa S2 Magister Manajemen, Sekolah Pascasarjana Unilak, sekaligus Assistant Manager Fasilitas Operasi di PT PLN (Persero) UP2B Sumatera Bagian Tengah, menjelaskan isu yang ia angkat secara reflektif. Menurutnya, pengalaman lapangan perlu diterjemahkan menjadi gagasan profesional yang mudah dipahami publik. Kajian ini disusun di bawah bimbingan Dr. Richa Afriana Munthe, S.E., M.M.
“Isu yang saya angkat berkaitan dengan kinerja karyawan dan motivasi kerja. Dalam pengamatan saya, persoalannya terlihat dari fenomena pegawai yang memiliki produktivitas kerja tinggi, ditunjukkan melalui pencapaian target kinerja serta kontribusi terhadap pelaksanaan tugas organisasi. Namun demikian, tidak semua pegawai yang memiliki produktivitas tinggi memperoleh kesempatan yang sama dalam penempatan pada posisi strategis maupun pengembangan karier. Sebaliknya, terdapat pegawai yang memperoleh penempatan atau kesempatan pengembangan karier karena faktor lain, seperti kebutuhan organisasi, ketersediaan jabatan, pengalaman kerja, dan kebijakan manajemen perusahaan,” katanya. Ia menegaskan bahwa isu ini perlu disampaikan dengan bahasa yang hati-hati, karena tujuan utamanya bukan mencari kesalahan, melainkan mencari jalan perbaikan.
Menurut Ivon Indra Ferdianto, akar masalahnya tidak berdiri sendiri. “Kalau dilihat lebih dalam, penyebabnya berkaitan dengan kebutuhan organisasi, keterbatasan formasi jabatan, kesesuaian kompetensi dengan jabatan, dan hasil assessment kompetensi. Jadi, kita perlu melihatnya sebagai rangkaian sebab-akibat di dalam organisasi,” ujarnya.
Dari kondisi itu, dampak yang muncul adalah menurunnya motivasi kerja, menurunnya produktivitas kerja, dan menurunnya kinerja organisasi.
Untuk memperkuat gagasannya, Ivon Indra Ferdianto mengaitkan persoalan tersebut dengan Social Exchange Theory. Ia menjelaskan, “Teori ini membantu saya memahami bahwa persoalan di organisasi tidak hanya soal individu, tetapi juga soal sistem, pola komunikasi, sumber daya, aturan, dan cara organisasi mengambil keputusan.” Dalam penjelasannya, Social Exchange Theory menjelaskan bahwa hubungan antara individu dan organisasi dibangun atas prinsip timbal balik, di mana setiap kontribusi yang diberikan diikuti dengan harapan memperoleh penghargaan atau manfaat. Dalam hubungannya dengan fenomena ini, tidak semua pegawai yang memiliki produktivitas kerja tinggi memperoleh kesempatan dalam pengembangan karier.
Mengenai solusi yang paling realistis, Ivon Indra Ferdianto menjawab bahwa perbaikan harus dilakukan secara bertahap. “Saya melihat solusinya adalah memperbaiki komunikasi, memperjelas SOP, memperkuat kompetensi SDM, membangun kolaborasi, dan melakukan evaluasi berbasis data. Yang penting, solusi itu dijalankan dengan komunikasi yang baik, tidak memojokkan siapa pun, dan bisa diterima oleh orang-orang yang terlibat di dalam organisasi,” ungkapnya.
Dr. Chandra, S.T., M.M., yang memandang isu ini sebagai masyarakat, praktisi, dan peneliti ilmu manajemen, menilai bahwa gagasan Ivon Indra Ferdianto penting karena menyentuh hubungan timbal balik antara kontribusi pegawai dan peluang pengembangan karier. Ia memberi masukan agar pembahasan diperkuat dengan data kinerja, pola promosi, dan ukuran motivasi kerja yang dapat diamati. Dengan begitu, narasi perbaikan dapat diarahkan pada sistem penghargaan yang lebih jelas, adil, dan tetap menjaga kehati-hatian dalam menyampaikan kritik organisasi.
Dosen Pengampu:
Dr. Richa Afriana Munthe, S.E., M.M.
Dr. Chandra, S.T., M.M.,

