![]() |
| Berikan bantuan rumah |
Kolaborasi Pemkab Bersama Lembaga Sosial Langsung Turun Membantu
PADANGPARIAMAN - Perjalanan nasib seseorang agaknya memang sudah digariskan oleh yang kuasa. Begitu pula, di balik setiap kesulitan akan ada jalan keluarnya, begitu pula dalam setiap kesempitan juga pasti akan ada kemudahan.
Seperti yang dialami Rani, anak yatim piatu, warga Sicincin, Kecamatan 2 X 11 Enam Lingkung Kabupaten Padangpariaman yang harus rela menjadi tulang punggung keluarganya. Termasuk mengayomi dan membiayai kebutuhan harian dua orang adik perempuannya.
Tak kalah memprihatinkan, ketiga adik beradik yang masih berusia belia, atau masih dalam usia sekolah ini juga harus tinggal di rumah yang tidak layak.
Beruntung, belakangan nasib miris para anak yatim piatu ini mendapat perhatian khusus dari jajaran Pemkab Padangpariaman, dengan menyalurkan berbagai bentuk santunan yang mereka butuhkan, berkolaborasi dengan sejumlah lembaga sosial lainnya.
Seperti terungkap Selasa (14/4/2026) kemarin, dimana Pemerintah Kabupaten Padangpariaman bersama sejumlah lembaga dan komunitas sosial menunjukkan kepedulian nyata terhadap Rani sekeluarga, dengan cara menginisiasi pembangunan rumah layak huni bagi ketiga anak yatim yang tinggal di Korong Ladang Laweh, Nagari Sicincin, Kecamatan 2x11 Enam Lingkung tersebut.
Seperti diketahui, munjungan tersebut merupakan tindak lanjut kedua setelah sebelumnya dilakukan asesmen awal oleh Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) atas instruksi Kepala Dinas Sosial P3A Kabupaten Padangpariaman.
Pada kunjungan pertama, bantuan awal telah disalurkan, berupa kebutuhan pokok, perlengkapan dapur, sandang, serta bantuan uang tunai sebesar Rp2 juta dari ASPILA.
Sementara dalam kunjungan kedua pada Selasa kemarin, Baznas juga ikut mengalokasikan bantuan program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) senilai Rp25 juta untuk pembangunan rumah baru bagi Rani Rafika Dewi dan kedua adiknya. Demikian pula, ASPILA juga kembali menyalurkan bantuan uang tunai sebesar Rp2 juta.
Seperti ditegaskan Ketua LKKS Padangpariaman, Nita Christanti Azis, bahwa intervensi kali ini merupakan bentuk komitmen bersama berbagai pihak dalam menjamin masa depan anak-anak tersebut.
“Rani sebelumnya sempat putus sekolah saat kelas 5 SD, dan kini sudah didaftarkan kembali untuk melanjutkan pendidikan melalui program kesetaraan. Kami berkomitmen agar ia dapat menyelesaikan pendidikan hingga SMA, bahkan jika memungkinkan sampai ke perguruan tinggi,” ujarnya.
Ia juga tak luput mengungkapkan keprihatinan atas kondisi Rani yang harus mengambil peran sebagai tulang punggung keluarga untuk menghidupi kedua adiknya, meski masih dalam usia anak-anak.
Menurutnya, kolaborasi berbagai pihak telah membuahkan hasil nyata, termasuk penyediaan lapangan pekerjaan sementara bagi Rani agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa meninggalkan pendidikan.
“Bantuan ini tidak hanya pembangunan rumah, tetapi juga mencakup dukungan lanjutan seperti kebutuhan hidup, perlengkapan, hingga peluang beasiswa ke depan,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan, bahwa pembangunan rumah akan difokuskan pada penyediaan material melalui Baznas, sementara proses pengerjaan akan mengedepankan semangat gotong royong masyarakat setempat.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial P3A Padangpariaman, Siska Primadona, menjelaskan, bahwa kasus yang dialami Rani sekeluarga pertama kali dilaporkan masyarakat pada 10 April 2026. Laporan tersebut menyebutkan adanya tiga anak yatim piatu yang hidup dalam kondisi memprihatinkan tanpa orang tua dan tempat tinggal yang layak.
Menindaklanjuti laporan tersebut, pihaknya segera melakukan asesmen lapangan dan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk merumuskan langkah intervensi cepat.
“Dari hasil asesmen, kami langsung melakukan kunjungan dan memberikan bantuan darurat berupa sembako serta kebutuhan dasar lainnya. Selanjutnya, kami menggalang kolaborasi dengan berbagai lembaga untuk penanganan yang lebih komprehensif,” jelas Siska.
Selain bantuan fisik, pemerintah daerah tegasnya juga merencanakan pendampingan psikologis bagi Rani dan kedua saudaranya guna memulihkan kondisi psikososial mereka setelah mengalami tekanan hidup yang cukup berat.
“Pendampingan psikologis menjadi penting karena mereka telah kehilangan hak-hak dasar sebagai anak, seperti belajar, bermain, dan bersosialisasi secara normal,” ujarnya.
Program ini sekaligus diharapkan menjadi contoh sinergi antara pemerintah, lembaga sosial, dan masyarakat dalam menangani persoalan kesejahteraan sosial secara terpadu dan berkelanjutan.(*)

