Ticker

6/recent/ticker-posts

Perjalanan Panjang Ritno Kurniawan Menyemai Bakti Untuk Negri Pangkas Praktik Pembalakan Liar, Kembangkan Kawasan Wisata Nyarai



Oleh : Yurisman Malalak

"Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera di hutan juga bekerja." (Buya Hamka)

Nama Ritno Kurniawan, alumni Universitas Gajah Mada Yogyakarta ini belakangan semakin santer menjadi perbincangan banyak orang.

Pasalnya, karena dedikasinya selama ini Ritno baru-baru ini sempat dianugerahi Satya Lencana Kepariwisataan oleh Presiden RI, Joko Widodo, atas kepeduliannya dalam memberdayakan dan merubah mindshet masyarakatnya dalam pengelolaan kawasan kawasan hutan Nyarai, sekaligus mampu mengurangi praktik penebangan liar di kawasan itu.

Penghargaan prestisius tersebut diterima bertepatan saat puncak peringatan HUT Kemerdekaan RI tahun 2019 di Istana Negara.

Tidak itu saja, Ritno juga tecatat sebagai peraih penghargaan Satu Indonesia, sebagai pengakuan pihak Astra International Motor, atas upaya dan keberhasilannya mengembangan kawasan air terjun Nyarai di hutan Gamaran di Nagari Lubuk Alung, dan selanjutnya mengubahnya menjadi kawasan destinasi wisata utama di Kabupaten Padang Pariaman.

Tercatat puluhan sudah penghargaan yang diterima oleh Ritno atas upayanya selama ini. “Jumlahnya sekitar 15 penghargaan atau lebih. 

Berapa persisnya saya sudah tidak hafal seluruhnya,” demikian pengakuan Rinto Kurniawan, saat penulis penjambangi kediamannya di Kayu Gadang, Nagari Lubuk Alung, Kabupaten Padangpariaman, Selasa (30/12).

Sebut saja beberapa penghargaan bergengsi lainnya yang pernah disabet Ritno, seperti Juara I inovasi managemen oleh PT. Semen Padang, Juara II Pok Darwis tingkat Nasional, penghargaan Kalpataru tingkat Provinsi Sumatera Barat, bidang penyelamat lingkungan. Penghargaan Penggerak Pariwisata Sumbar oleh Riau Pos.

Bahkan pihak EOCA, lembaga pelestari lingkungan masyarakat Eropa sempat- mendaulat Ritno sebagai juara terbaik dunia, dalam hal mengubah pola pandang atau mindshet masyarakat dalam mengelola lingkungan hutan.

Bagi Ritno, puluhan penghargaan yang diterima selama ini jelas merupakan penyemangat tersendiri.
Beberapa diantaranya bahkan sangat berkesan baginya. 

Seperti penghargaan Tanda Kehormatan oleh Presiden RI, lengkap dengan lencana dan tropy penghargaan lainnya. Demikian pula penghargaan yang diberikan oleh pihak Astra International Motor.

“Bantuan yang diberikan Astra memang sangat spesial. Karena selain sempat mendapatkan reward, kita juga mendapatkan bimbingan secara berkala,” begitu alasannya.

Hal itu nampaknya cukup beralasan. Karena selain dianugerahi penghargaan Indonesia Satu, beberapa warga sekitar juga ikut kecipratan dampak positifnya. 

Pihak Astra juga menetapkan beberapa nagari  di daerah itu sebagai Kampung Berseri Astra.
Tentunya beragam penghargaan yang diterimanya selama ini layaknya bak penglipur lara. 

Ibarat obat jerih pelipur demam, khususnya dalam menghadapi onak duri perjuangannya selama ini.

“Cukup banyak tantangan dan hambatan yang saya hadapi sebelumnya. Terutama waktu membuka kawasan hutan Gamaran sebagai kawasan destinasi wisata. 
Saya bahkan sempat dihadang hingga didesak menghentikan program tersebut,” suami dari  Sukmaweti ini, saat ditanya lika-liku perjalanannya saat membuka kawasan hutan Gamaran beberapa tahun lalu.

Pengakuan Ritno ini tentunya bukan tanpa alasan yang jelas. Betapa tidak, pembukaan kawasan hutan Gamaran sebagai tujuan kunjungan wisata dianggap bisa mengancam mata pencarian banyak pihak. 

Khususnya para cukong kayu dan para pembalak liar yang biasa beroperasi di kawasan hutan tersebut.

Bagi mereka, kawasan hutan Gamaran merupakan sumber ekonomi yang sangat menjanjikan. Tak peduli meski hal itu  bisa merusak kelestarian lingkungan di sekitarnya.

Beruntung, berkat kesabaran serta pendekatan dengan beberapa pihak, termasuk dengan pihak pemuda adat, tokoh pemerintahan nagari dan tokoh pemuda lainnya lambat laun warga mulai menerima program yang digagas Ritno.


Bahkan belakangan, masyarakat di daerah itu  mulai menikmati imbas positif dari pengembangan wisata di sekitar kawasan hutan Gamaran.
Terbukti tidak lama diantaranya kawasan wisata Nyarai yang terdapat di hutan Gamaran menjadi begitu booming.

Lebih dari tiga ribuan pengunjung mengunjungi kawasan objek wisata di daerah itu setiap bulannya.

Para pengunjung bahkan tidak hanya datang dari daerah Provinsi Sumatera Barat saja, namun juga banyak datang dari provinsi tetangga lainnya, seperti Provinsi Riau dan daerah lainnya.

Dampak positif lainnya, praktik pembalakan liar yang sebelumnya banyak terjadi di kawasan hutan Gamaran kini praktis sudah tidak ditemukan lagi.

Tidak dinapikan lagi, kini kawasan objek wisata Air Terjun Nyarai bahkan mampu menembus ruang dan waktu, sekaligus menjelma menjadi icon utama destinasi Kabupaten Padang Pariaman.

Jadikan Hidup Lebih Berarti
Bagi Ritno, hidup mesti harus dimaknai secara jelas. Hidup akan terasa indah dan berarti apabila kita bisa memberikan nilai kemanfaatan bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

Prinsipnya, hidup akan terasa lebih bermakna apabila kita bisa berbuat sesuatu yang berarti bagi orang lain. 

“Seperti ungkapan Buya Hamka, kalau hidup sekadar hidup, maka babi di hutan juga hidup. Dan kalau kita bekerja hanya sekadar bekerja, maka kera di hutan juga bekerja.

Makanya terpulang kepada kita sendiri. Apakah kita hanya akan hidup layaknya hewan di hutan. Sebut saja seperti kera yang hidup di hutan misalnya,” ungkap alumni SMAN I Lubuk Alung ini, saat ditanya filosofi hidup yang dijalaninya.


Prinsipnya, pengabdian terhadap sesama merupakan panggilan jiwa yang tak terbantahkan. Demikian pula sikap kita terhadap alam dan lingkungan yang ada di sekitar kita.

“Karena kalau kita tidak arif dalam mengelola serta memanfaatkan alam,  tentunya akan banyak kerusakan yang terjadi. Mulai dari peristiwa longsor, banjir, hingga bisa saja ekosistem yang ada di sekitar hutan juga bisa terusik. Hingga hewan yang ada di hutan pun bisa saja berubah ganas lalu menyerang manusia,” terangnya.

Hematnya, setidaknya itulah yang banyak terjadi hari ini. Terbukti akhir-akhir ini banyak ditemukan kejadian binatang buas menyerang atau menerkam manusia. 

Bahkan ada diantaranya yang memilih memasuki perkampungan manusia. Seperti kasus gajah yang berkeliaran hingga ke perkotaan. Begitu pula lebah dan berbagai jenis ular lainya.

“Makanya sebagai manusia kita tentu mesti memandang alam sebagai bagian penting dan tak terpisahkan dari kehidupan kita sebagai sesama makhluk hidup, “ tegas tamatan UGM tahun 2011 ini.

Begitu pula kawasan hutan juga harus dikelola dengan baik. Bukannya malah dijadikan sebagai objek eksploitasi tanpa batas. Karena itu semua jelas akan merusak keseimbangan dan keharmonisan alam.

“Termasuk tentunya juga bisa mengganggu kelangsungan habitat hewan yang hidup di dalamnya,” tegas pria kelahiran 3 Mei tahun 1986 ini.

Dengan berbagai alasan itulah, program pelestarian lingkungan hayati mestinya perlu mendapatkan perhatian serius semua pihak, termasuk dari para pemangku kepentingan yang ada.

“Karena kalau kita bisa mengelolanya dengan baik, di hutan kan bukan hanya kayunya saja yang dieksploitasi. Hutan banyak  menawarkan nilai kemanfaatan bagi manusia. Termasuk misalnya ada madu lebah yang bisa dijadikan obat-obatan,” terangnya.

Begitu pula berbagai jenis rotan yang ada di hutan tentunya juga bisa diolah menjadi beragam jenis kerajinan.

Begitu pula beragam dedaunan yang terdapat di rerimbunan belantara hutan juga bisa diolah dan dimanfaatkan sebagai bahan ramuan atau bahan obat-obatan lainnya.

“Bahkan oksigen yang  bersumber dari kawasan hutan juga bisa diolah atau dijual ke negara lain. Seperti dilakukan sejumlah negara maju,” terang Ritno.

Tentunya semua itu bisa dimanfaatkan tanpa harus merusak ekosistem kelestarian lingkungan hidup yang ada di dalamnya.

Menurut Ritno, jika ditelaah lebih jauh, ternyata nenek moyang masyarakat Minangkabau juga telah mewariskan banyak nilai kearifan lokal dalam menjaga keharmonisan alam.

Salah satunya terlihat dari lahirnya ungkapan alam terkembang jadikan guru. Juga ada ungkapan ke bukit sama mendaki, ke lurah sama menurun. 

“Prinsipnya sebagai manusia kita tentunya harus bisa hidup berdampingan secara harmonis dengan dengan lingkungan alam yang ada di sekitar kita,” imbuhnya berfilosofi.

Bahkan lanjutnya, pada era raja-raja masa lalu, kawasan hutan justeru dijadikan sebagai tempat paling pavorit untuk beriwisata atau tempat berburu untuk mengisi waktu luang atau menghilangkan rasa kejenuhan. 

Begitu pula untuk mendapatkan bahan ramuan obat yang selama ini juga banyak terdapat di kawasan hutan.

“Karena bukankah manusia itu telah ditunjuk oleh yang Maha Kuasa sebagai penanggungjawab pengelola seisi alam. Makanya setiap orang harusnya bisa menunjukkan kepeduliannya untuk melestarikan lingkungan hidup,” demikian Ritno Kurniawan.

Ke depan menurut tamatan UGM Yogyakarta ini, itulah salah satu program yang akan dikembangkannya lebih jauh. 

Termasuk  bagaimana membudidayakan dan memberdayakan lagi berbagai sumber kekayaan hayati yang ada di sekitar kawasan hutan Gamaran.

Selanjutnya menjadikannya sebagai sumber pendapatan baru bagi masyarakat.

“Mungkin ke depannya bisa saja dipadukan dengan program Kampung Berseri Astra (KBA). Karena bukankah saat ini sejumlah program KBA juga  masih berlangsung di kampung kami ini. Termasuk diantaranya program penghijauan,” ujarnya.

Seperti diketahui, program KBA Astra sendiri merupakan bentuk kepedulian pihak Astra dalam mengembangkan dan memberdayakan berbagai potensi yang ada di tengah masyarakat maupun lingkungan alam yang ada di nagari atau di desa.

Hal itu setidaknya terlihat dari beberapa program KBA yang terdapat di Pasia Laweh Lubuk Alung. Salah satunya ikut mendukung program wisata arung jeram di daerah itu.

Begitu pula program  penghijauan atau pembibitan di Kayu Gadang Lubuk Alung, mendirikan grand house di Kayu Gadang dan lain sebagainya.

“Terakhir keinginan saya bagaimana mendirikan pustaka di sini, sehingga nantinya anak-anak maupun generasi muda di sini bisa lebih rajin membaca, sekaligus akan lebih sadar lagi dalam mencintai lingkungan hidup,” bebernya.

Menurutnya, konsep pengembangan wisata pada dasarnya terpulang kepada niat kita sendiri. Makanya yang niat itulah yang harus diluruskan terlebih dahulu.

“Jadi program apapun yang akan kita kembangkan semua harus diniatkan untuk masyarakat jadi bukan untuk yang lain. Apalagi untuk kepentingan pribadi,” terangnya.

Pendekatan seperti itulah setidaknya yang dilakukan Ritno selama ini. Hingga diapun berhasil mengubah mindshet masyarakat dalam memandang pengelolaan kawasan hutan.

Bagaimana pun hutan tentunya merupakan  bagian penting yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan kehidupan manusia di alam ini.

Terbukti, dengan mengelola kawasan hutan sebagai kawasan wisata justeru mampu memberikan pendapatan alternatif bagi mereka.

Seperti terlihat dari ratusan warga di sekitar hutan Gamaran yang dulunya banyak mengandalkan sumber ekonomi mereka dari praktik membalak kayu di hutan.

Kini mereka justeru telah memiliki profesi baru sebagai pemandu wisata Air Terjun Nyarai yang terletak di kawasan hutan Gamaran.
Jumlahnya bahkan mencapai 168 orang. 

Menariknya, sebanyak 55 orang diantaranya tercatat telah mengantongi lisensi atau sertifikasi sebagai pemandu eko wisata Nyarai.
Meski demikian, ke depannya Ritno masih menyimpan banyak amunisi atau asa lainnya.

Salah satunya mengembangkan desa wisata. Dengan begitu diharapkan waktu kunjungan wisatawan bisa lebih lama lagi, sekaligus bisa memberikan income lebih terhadap pendapatan masyarakat di daerah itu.   

Figur dengan Sosial Tinggi
Di pihak lain, Yanda selaku sekretaris LA Rafting, mengakui jika generasi muda di daerahnya  di Pasia Laweh pada khususnya memang sangat mengagumi sosok Ritno Kurniawan.

“Bagi kami pemuda di sini sosok bang Ritno merupakan figur sekaligus panutan bagi kami. Apalagi konsep yang dikembangkannya sangat merakyat.

Bagi bang Ritno, pengembangan pariwisata itu harus bisa memberikan nilai kemanfaatan lebih bagi masyarakat,” terangnya.

Seperti yang dirintisnya di Pasia Laweh sendiri, berupa program arum jeram. Hasilnya, puluhan pemuda dan masyarakat Pasia Laweh yang biasanya hidup dari  mencari batu, kini beralih profesi menjadi pemandu wisata arum jeram.

Masih menurut pengakuan Yanda, pihak Astra juga menetapkan kawasan di sekitar daerah itu sebagai Kampung Berseri Astra.

“Bahkan kami juga sempat dibantu satu unit perahu karet oleh pihak Astra. Selain itu juga ada bantuan pembangunan Galeri oleh pihak Astra. Tujuannya tak lain untuk menampung beragam jenis kerajinan dan perlengkapan arum jeram lainnya,” imbuh remaja penghobi olah raga arung jeram ini.   

Tidak kalah pentingnya, belakangan program arum Jeram yang dimotori Ritno di daerah ini bahkan telah berkembang lebih jauh lagi, yaitu menjadi ajang pembinaan atlet usia dini.

“Baru-baru ini, atlet daerah ini bahkan sempat menyabet prestasi nasional, setelah keluar sebagai juara II lomba arung jeram di Tejang Lebong Bengkulu,” terang Yanda lebih lanjut.

Saat bersamaan, langit senja di ufuk cakrawala tampak mulai merambat turun. Kepadatan arus lalu lintas di sekitar kawasan pasar Lubuk Alung juga terlihat kian padat saja. Hal itu praktis membuat para pengendara harus rela memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang.


Sementara, para pedagang di sekitar kawasan pasar Lubuk Alung juga tampak sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Banyak warga terlihat lalu lalang warga mengisi musim liburan Natal dan tahun baru 2020.

Diantaranya tampak ada yang memanfaatkan mobil bak terbuka atau kendaraan umum lainnya. (Yurisman Malalak)














Posting Komentar

0 Komentar