Rabu, 18 Juli 2018

Nagari Ambuang Kapua Sungai Sariak Kaya Nilai Kearifan Lokal

PADANG PARIAMAN (Reportase Sumbar)---Setelah resmi dilantik sebagai walinagari defenitif pada akhir Mei 2018 mendatang, Walinagari Ambuang Kapua Sungai Sariak, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Kabupaten Padangpariaman, Kardimon tampak terus melakukan berbagai langkah pembenahan dan konsolidasi lainnya.

Seperti diakui Kardimon Rabu kemarin, saat dihubungi di ruang kerjanya di Nagari Ambuang kapua Sungai Sariak, sebagai nagari hasil pemekaran dari nagari induk Kanagrian Sungai Sariak, tentunya banyak hal yang perlu mendapatkan perhatian agar bisa dibenahi ke depannya. "Satu hal utama, di Nagari Ambuang Kapua Sungai Sariak  ini bisa dikatakan sangat susah menemukan warga dengan status pendidikannya setingkat SLTA atau SMA. Sebab kebanyakan diantara mereka lebih cenderung mencari penghidupan ke luar daerah atau pergi merantau. Makanya ke depan kita tentu berharap agar nantinya akan ada beberapa peluang usaha yang bisa dimanfaatkan oleh para generasi muda di daerah ini, sebagai sumber ekonomi bagi mereka," sebut Kardimon.

Menurutnya, bila mengacu pada beragam potensi yang dimiliki oleh nagari Ampuang Kapua Sungai Sariak, sebenarnya cukup banyak potensi unggulan daerah ini yang bisa dikelola dan dikembangkan sebagai sumber pendapatan ekonomi baru bagi masyarakat di daerah ini. Salah satunya potensi bahan baku pohon kelapa yang terbilang jumlahnya cukup melimpah. 


Dengan alasan itu pihaknya berharap kiranya berbagai potensi unggulan yang dimiliki daerah ini, termasuk diantaranya potensi hasil pertanian dan perkebunan lainnya bisa dikembangkan sedemikian rupa, sehingga nantinya bisa menjadi sumber andalan ekonomi bagi masyarakat, termasuk bagi generasi muda yang ada di daerah ini.

"Jadi harapan kita ke depannya, hendaknya generasi muda yang ada di nagari ini hendaknya tidak hanya pergi merantau untuk mencari penghidupan namun juga diharapkan bisa mendapatkan sumber pendapatan ekonomi di kampung halaman sendiri," imbuhnya.

Lebih jauh Kardimon menambahkan, Nagari Ambuang Kapua Sungai Sariak sendiri sebenarnya cukup banyak memiliki potensi terpendam lainnya. Baik itu dalam bidang ekonomi, sejarah budaya maupun potensi kearifan lokal lainnya. "Salah satunya tradisi yang pernah hidup secara turun temurun di nagari ini adalah tradisi Ratik Tulak Bala, dengan cara melantunkan kalimah  tahlil keliling kampung. Namun sayangnya sejak dua puluh tahun belakangan tradisi itu nyaris tidak lagi ditemukan, makanya sebagai walinagari kita tentu sangat berkeinginan agar nilai kearifan lokal ini nantinya bisa dihidupkan atau dibangkitkan kembali," imbuhnya.

Kardimon mengakui, jika saja tradisi Ratik Tulak Bala tersebut bisa dikemas atau dibangkitkan sedemikian rupa, maka tidak tertutup kemungkinan tradisi itu bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi warga luar untuk ikut menyaksikannya, sekaligus nantinya bisa berkembang menjadi iven wisata religius yang ada di daerah ini.

Dengan alasan itulah lanjutnya pihaknya menargetkan agar tahun ini juga tradisi Ratik Tulak Bala tersebut bisa kembali diaktifkan. "Biasanya menurut tradisi yang telah berkembang di daerah Ambuang kapuar ini sebelumnya, kegiatan tradisi Tulak Bala tersebut biasa digelar menjelang masuknya bulan Ramadhan. Jadi tradisi inilah yang saat ini tengah kita upayakan membangkitkannya," bebernya.

Di sisi lain, Kardimon menambahkan, menurut cerita yang diterima pihaknya secara turun temurun, tradisi Ratik Tulak Bala dimaksud biasanya berfungsi sebagai media atau bentuk permohonan kepada sang Khaliq, Allah SWT, agar daerah dan masyarakat di daerah ini bisa terhindar dari segala bentuk musibah atau bala bencana lainnya.

Selain itu lanjutnya, melalui tradisi yang biasa berlangsung secara massal tersebut  tentunya juga sangat baik dalam rangka membumikan syiar dakwah Islam di tengah kehidupan masyarakat. Karena jika masyarakat telah  bersama-sama mengumandangkan kalimah tayyibah seperti tahlil, tentunya akan bisa mengundang datangnya rahmat dan keberkahan dan Allah SWT. "jadi mudah-mudahan saja, harapan mulia kita ini nantinya akan diridhai oleh Allah SWT, sehingga nantinya kegiatan tersebut bisa berjalan seperti yang diharapkan," terangnya.

Di samping potensi kearifan lokal, seperti Ratik Tulak Bala, di Nagari Ambuang Kapua Sungai Sariak sendiri juga ditemukan banyak peninggalan bersejarah. Diantaranya makam seorang ulama atau Syech yang terbilang keramat, yang terletak di Lagundi Nan Baselo. 


Hanya saja menurut Kardimon, sejauh ini siapa sosok atau figur ulama dimaksud masih terbilang misterius, atau belum dikenal secara pasti. "Jadi ke depan inilah salah satu PR kita ke depannya, termasuk tentunya para pemerhati sejarah lainnya. yaitu , bagaimana menelusuri sosok ulama yang merupakan salah seorang pengembang ajaran agama Islam tersebut," terangnya.

Masih menurut Kardimon, salah satu potensi tradisi budaya keislaman lainnya yaitu meriam peninggalan Belanda, yang biasanya kerap dibunyikan sebagai penanda dimulainya bulan Ramadhan. 


Saat ini lanjutnya, keberadaan meriam berukuran sedang itu,  masih disimpan di rumah salah seorang rumah penduduk. "Harapan kita ke depannya meriam ini bisa disimpan di tempat khusus, sehingga bisa ditetapkan sebagai peninggalan cagar budaya," imbuhnya mengakhiri. (yurisman malalak)

SHARE THIS

Author:

Reportase Sumbar. Com adalah portal berita Sumatera Barat ditayangkan oleh PT.Berita Minang Berdasarkan Akta Notaris Jelisye Putri, SH Nomor 2 Tanggal 3 Agustus 2017

0 komentar: