Jumat, 23 Juni 2017

Spirit Jepang: Lompatan Ketiga dan Warisan Olahraga

(Reportase Sumbar ) — Terlepas dari berbagai hal faktor ekonomi, penyelenggaraan Piala Dunia 2002 secara tidak langsung kembali menghidupkan industri olahraga Jepang. Mizuno, misalnya, yang mulai memfokuskan diri memproduksi sepatu sepak bola demi bersaing dengan perusahaan dari luar negeri yang bergerak di bidang sama.

Kualitas produk-produk Jepang yang didesain dengan perkembangan teknologi terbaru pun kembali menjadi modal utama bagi Mizuno untuk bersaing dalam pasar. Sejatinya, Mizuno telah memproduksi sepatu sepak bola sejak 1985. Salah satu produk unggulan mereka adalah Morelia, yang diklaim sebagai sepatu paling ringan di dunia.

Bahkan, Morelia sempat hadir di kaki sejumlah bintang sepak bola, seperti legenda tim nasional Brasil, Ronaldo, Rivaldo, Roberto Carlos, eks pemain timnas Argentina, Pablo Aimar, Gianfranco Zola, hingga Patrick Kluivert. Hal ini membuktikan, produk-produk Jepang mampu mengambil tempat di hati para atlet-atlet dunia.

Pagelaran Piala Dunia 2002 telah lama usai. Kini, terpampang kembali tantangan besar bagi Jepang untuk membuka mata dunia lewat dunia olahraga melalui penyelenggaraan Olimpiade 2020, yang akan membuka memori indah 53 silam. Bahkan, bisa pula Olimpiade 2020 bakal menjadi lompatan ketiga bagi Jepang.

Presiden Komite Olimpiade Internasional, Jacques Rogge, saat mengumumkan tuan rumah Olimpiade 2020, di Buenos Aires, 7 September 2013. (AFP).
Ads by

Perkiraan ini bukan isapan jempol semata. Kesuksesan Jepang menggelar Olimpiade 1964 membuat Jepang akan mengerahan segala cara untuk membuktikan spirit negaranya nomor satu di dunia pada gelaran Olimpiade, tiga tahun mendatang. Berbagai proyeksi kebijakan dan target pun telah dikumandangkan.

Pada 2015, kepada The Bussiness Times, Direktur Japan Tourism Agency (JTA), Ichiro Takasashi, mengungkapkan, negaranya bakal menargetkan 20 juta wisatawan asing datang pada 2020. Target ini mengacu terhadap tren positif peningkatan jumlah turis yang datang di Jepang setiap tahunnya sejak 2012, atau tepatnya satu tahun setelah tragedi gempa dashyat dan tsunami di Jepang pada 2011.

Untuk lebih menarik minat turis luar negeri, Jepang pun menjanjikan berbagai teknologi terbaru demi mendukung penyelenggaraan Olimpiade 2020. Pada 2016, misalnya, perusahaan-perusahaan televisi Jepang sudah mulai meningkatkan penerapan teknologi "Super Hi-Vision" atau "8K", yang 16 kali jauh lebih detail daripada "4K" atau "Ultra HD".

Bidang telekomunikasi juga tak ketinggalan. NTT DoCoMo, salah satu perusahaan telekomunikasi besar di Jepang, menargetkan akan menerapkan teknologi jaringan 5G bagi seluruh telepon pintar pada 2020. Demikian halnya dengan Nissan yang sedang mengembangkan teknologi self-driving dalam sektor otomotif.

Pada 2012, CEO Komite Olimpiade Jepang, Masato Mizuno, mengatakan, negaranya akan mengusung misi "Athletes-First Olympic Games" pada 2020. Selain untuk mengakomodasi para atlet yang bertanding, misi tersebut juga bertujuan membangkitkan semangat masyarakat Jepang terhadap dunia olahraga, setidaknya sama seperti gelaran Olimpiade 1964.

"Waktu telah berubah. Namun, kami ingin kembali memberi antusiasme, harapan, dan mimpi bagi seluruh masyarakat Jepang, khususnya setelah tragedi gempa yang telah membuat banyak masyarakat mengalami kesulitan," ujar Masato Mizuno, dalam Tribune Business News, edisi 11 Juli 2012.

Pernyataan Masato Mizuno itu pun sejatinya kembali menegaskan, spirit Jepang bangkit dari keterpurukan tidak akan pernah lekang ditelan zaman. Spirit yang sejak ratusan tahun lalu telah membuat seluruh sendi kehidupan masyarakat di sana diselimuti kerja keras, etos, dan kedisplinan besar.

Keajaiban ekonomi setelah kekalahan di Perang Dunia II, keberhasilan menghapus pameo "Produk Jepang enak dipandang, namun cepat dibuang" merupakan beberapa contoh nyata bukti kesuksesan Jepang mampu berlari kencang untuk bertransformasi sebagai salah satu negara raksasa di dunia.

Dari puing-puing perang, Jepang membuat hasil kerja keras mereka masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat di dunia, tak terkecuali Indonesia. Bahkan, khusus bicara soal sepak bola, sementara Indonesia yang dulu diklaim sebagai "Macan Asia" hingga saat ini masih saja sibuk dengan persoalan naturalisasi, Jepang sudah mengirimkan pemain-pemain mereka ke berbagai kompetisi elite dunia untuk berprestasi.

Belum lagi mengenai pembuatan produk perlengkapan olahraga. Dalam bidang sepak bola, produksi Jepang kini mulai dirancang sedemikian rupa dengan inovasi teknologi terbaru untuk menyaingi perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang sama asal Amerika Serikat atau Eropa. Bagi Jepang, sepak bola juga adalah produk budaya yang harus tetap dijaga sebagai warisan untuk mimpi-mimpi besar anak cucu mereka.

"Ayo maju dan terus buatlah produk-produk terbaik untuk para konsumen. Namun, kuncinya tetap buatlah produk tersebut dengan kejujuran, kualitas yang bagus, serta harga yang wajar." — Rihachi Mizuno/www.bola.com


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 komentar: